TANA TORAJA, NGERTI.ID – Momentum Reuni ke-II Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) Sangsangallaran pekan ini menghadirkan suasana berbeda. Acara yang semula menjadi ajang temu kangen dan mempererat silaturahmi antar-kader berubah menjadi ruang penyampaian sikap kritis terhadap isu lingkungan. Panitia dan peserta memasang sejumlah spanduk yang berisi penolakan terhadap rencana proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) di wilayah tersebut.
Aliansi Pemuda Sangsangallaran Tolak Geothermal bersama sebagian elemen PPGT menginisiasi pemasangan spanduk tersebut. Mereka memanfaatkan reuni sebagai wadah konsolidasi untuk mengawal masa depan ruang hidup masyarakat. Spanduk yang terpasang di sejumlah titik strategis memuat pesan penyelamatan lingkungan. Para pemuda dan masyarakat menilai proyek geothermal berpotensi mengancam kelestarian alam. Mereka juga khawatir proyek itu merusak sumber mata air, menurunkan kualitas lahan pertanian, dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Dampak tersebut dinilai dapat mengganggu perekonomian warga yang bergantung pada sektor pertanian.
Meski aksi penolakan terlihat mencolok, rangkaian Reuni ke-II PPGT Sangsangallaran tetap berlangsung kondusif dan penuh khidmat. Kehadiran spanduk tersebut juga memicu diskusi di kalangan alumni, tokoh masyarakat, dan tamu undangan. Mereka membahas pentingnya peran pemuda Gereja Toraja dalam menyikapi isu sosial dan lingkungan.
Melalui rilis tersebut, Aliansi Pemuda Sangsangallaran Tolak Geothermal menegaskan bahwa pemuda gereja tidak boleh memisahkan iman dari realitas sosial jemaat. Mereka menilai menjaga bumi dan kelestarian alam Sangsangallaran merupakan bagian dari wujud nyata pengamalan iman. Aliansi juga menyatakan akan terus mendampingi warga. Mereka berkomitmen mengawal dan menolak pembangunan yang berpotensi merusak lingkungan serta menghilangkan hak kelola masyarakat atas tanah leluhur.



