NGERTI.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk Persia diperkirakan akan membentuk ulang peta pasar energi global dalam jangka panjang. Di tengah krisis Selat Hormuz, AS dan China kini bersaing secara terbuka untuk menguasai masa depan energi dunia.
Direktur Willy Brandt School of Public Policy, Andreas Goldthau, menilai AS masih mengandalkan dominasi energi berbasis fosil sebagai alat politik. Ia menyebut Washington memanfaatkan kekayaan minyak dan gas untuk memperkuat posisi geopolitik.
Pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong strategi tersebut melalui slogan “Drill, baby, drill”. Pemerintah AS meningkatkan produksi minyak dan gas domestik secara agresif untuk menopang kebijakan luar negeri sekaligus memperluas pengaruh ekonomi ke negara mitra.
Gedung Putih bahkan mengklaim produksi minyak AS kini melampaui gabungan Arab Saudi dan Rusia. Revolusi fracking juga mengubah posisi AS dari importir besar menjadi eksportir gas utama dunia. Pemerintah memanfaatkan ekspor ini sebagai alat tawar dalam negosiasi dagang dengan Eropa dan Asia.
Di sisi lain, China bergerak ke arah berbeda dengan mempercepat transisi energi bersih. Beijing membangun kepemimpinan global melalui produksi panel surya, baterai, dan kendaraan listrik dalam skala besar sebagai bagian dari strategi keamanan ekonomi.
Dominasi China di Energi Bersih Global
China kini menguasai sekitar 80 persen rantai pasok fotovoltaik global. Sepanjang paruh pertama 2025, China memasang kapasitas tenaga surya yang bahkan melampaui total instalasi gabungan negara lain.
Dominasi tersebut juga terlihat di industri kendaraan listrik. McKinsey mencatat sekitar 60 hingga 70 persen produksi mobil listrik dunia berasal dari China. Perlambatan ekonomi domestik memicu kelebihan pasokan, lalu mendorong China mengekspor produk secara besar-besaran ke Eropa sekaligus memperkuat posisi teknologi hijaunya di pasar global.
Di sektor energi angin, China menguasai sekitar 72 persen pasar turbin baru pada 2025. Dari sepuluh produsen terbesar dunia, delapan perusahaan China memimpin pasar tersebut, termasuk Goldwind dan Envision.
Analis energi Eurasia Group, Henning Gloystein, menilai AS mencoba menahan laju China dengan menawarkan kontrak gas alam cair (LNG) jangka panjang kepada negara mitra. Washington menawarkan tarif kompetitif kepada Jepang, Thailand, dan India dengan syarat mereka tetap menggunakan energi fosil AS dalam jangka panjang.
Strategi ini berpotensi menciptakan ketergantungan energi secara sistemik. AS tidak hanya membidik pasar, tetapi juga berupaya mengendalikan aset energi di negara kaya sumber daya yang tengah berkonflik.
Sementara itu, sektor energi bersih menyumbang lebih dari sepertiga pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China pada 2025. Ekspor teknologi hijau China bahkan meningkat empat kali lipat sejak 2020, termasuk komponen penting seperti logam tanah jarang dan elektroliser.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengingatkan bahwa keamanan energi modern tidak lagi sekadar soal minyak dan gas. Ia menekankan pentingnya diversifikasi rantai pasok teknologi bersih agar dunia tidak bergantung pada satu kekuatan dalam era transisi energi global.




