NGERTI.ID – Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan niatnya untuk kembali mencalonkan diri pada pemilihan pimpinan FIFA periode 2027–2031. Ia menyampaikan rencana itu saat menutup Kongres FIFA ke-76 di Vancouver, Kanada, Kamis (30/4/2026).
Infantino secara resmi membuka fase pemilihan dan menyatakan kesiapannya untuk kembali bersaing memperebutkan kursi tertinggi FIFA. Ia juga menyampaikan rasa hormat kepada 211 asosiasi anggota.
“Saya merasa terhormat dan rendah hati. Saya ingin menegaskan kepada 211 asosiasi anggota bahwa saya akan mencalonkan diri kembali dalam pemilihan presiden FIFA tahun depan,” ujar Infantino.
Jika ia kembali memenangi kongres yang akan berlangsung di Rabat, Maroko, ia berpeluang memimpin FIFA hingga 2031.
Dukungan Kuat dari Afrika dan Amerika Selatan
Langkah Infantino mendapat dukungan signifikan dari dua konfederasi besar, yaitu CAF (Afrika) dan CONMEBOL (Amerika Selatan). Kedua organisasi itu menyatakan dukungan penuh terhadap kelanjutan kepemimpinan Infantino.
Sejak menjabat pada 2016 setelah menggantikan Sepp Blatter, Infantino terus memperkuat pengaruhnya. Ia bahkan melaju tanpa pesaing dalam pemilihan 2019 dan 2023.
Selama memimpin FIFA, Infantino aktif mendorong ekspansi berbagai turnamen internasional. FIFA kini menggelar Piala Dunia dengan 48 tim, sementara FIFA juga memperluas Piala Dunia Wanita menjadi 32 peserta sejak 2023.
Peluang Menjabat Hingga 2031
Regulasi FIFA menetapkan batas masa jabatan presiden maksimal 12 tahun. Namun, aturan tidak menghitung penuh periode awal Infantino sejak 2016. Kondisi ini memberi peluang baginya untuk tetap menjabat hingga 2031 jika ia kembali memenangkan pemilihan pada 18 Maret mendatang di Maroko.
Di bawah kepemimpinannya, FIFA memperluas jangkauan global dan memperkuat relasi dengan berbagai tokoh dunia. Infantino beberapa kali menjalin komunikasi dengan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Kedekatan itu menarik perhatian publik, terutama menjelang Piala Dunia 2034 di Arab Saudi.
Meski mencatat sejumlah capaian, kepemimpinan Infantino juga menuai kritik. Sejumlah pihak menyoroti tingginya harga tiket pertandingan serta kebijakan komersial FIFA yang dinilai semakin agresif.




