NGERTI.ID – Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas. Iran mengeluarkan peringatan keras soal dampak global terhadap jalur pelayaran strategis. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan hal itu. Ia menyebut aksi provokatif bisa memicu reaksi berantai hingga ke Selat Malaka di Asia Tenggara.
Velayati menyampaikan pernyataan itu di media sosial pada Minggu. Waktu itu berdekatan dengan akhir masa gencatan senjata Iran dan Amerika Serikat. Ia menyinggung potensi langkah militer atau tekanan dari pihak luar. Ia juga menyoroti dugaan blokade pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz.
“Era pemaksaan keamanan dari luar kawasan telah berakhir,” tulis Velayati. Ia menambahkan bahwa Iran dan mitra strategisnya mampu menjaga keamanan. Ia menyebut jalur penting seperti Hormuz dan Malaka. Ia juga mengatakan kelompok Ansar Allah berpengaruh di Selat Bab el-Mandeb.
Velayati kembali menegaskan ancamannya. Ia menyebut setiap tindakan yang mengancam akan memicu eskalasi luas. Pernyataan itu muncul setelah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Sebelumnya, Iran sempat menyatakan jalur itu tetap terbuka bagi kapal komersial.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperjelas sikap tersebut. Mereka menyatakan akan menutup Selat Hormuz sampai AS menghentikan blokade. IRGC juga memberi peringatan keras. Mereka akan menganggap kapal yang mendekat sebagai pihak musuh. Kapal itu berisiko menjadi target.
Dampak ke Selat Malaka Dinilai Terbatas
Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran global. Selat Hormuz menjadi jalur penting distribusi energi dunia. Namun, sejumlah analis melihat dampaknya ke Asia Tenggara tetap terbatas.
Hu Bo, Direktur South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, memberi penilaian. Ia melihat pernyataan Velayati sebagai upaya menarik perhatian dunia. Ia menegaskan kondisi di Selat Malaka berbeda jauh.
Selat Malaka menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Jalur ini menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan. Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengawasi keamanan kawasan itu.
Hu menilai negara pesisir tidak akan meniru langkah Iran. Mereka tidak memiliki kepentingan untuk tindakan ekstrem. Kawasan ini juga memiliki jalur alternatif. Kapal bisa melalui Selat Sunda, Lombok, dan Ombai-Wetar.
Krisis di Hormuz tetap memberi dampak tidak langsung. Situasi ini mendorong perhatian global. Banyak pihak kembali menyoroti keamanan jalur pelayaran.
“Selat Hormuz dan Selat Malaka memang berbeda. Namun, krisis ini membuat dunia memikirkan kembali keamanan rute maritim,” ujar Hu.




