TANA TORAJA, NGERTI.ID – Rencana pengembangan PLTP atau geothermal di Sangalla’, Tana Toraja, terus bergulir. Proyek ini kini memasuki tahap ketiga. Penolakan dari pemuda setempat pun semakin kuat.
Frenky L. Allorerung menyatakan penolakan secara tegas. Ia menolak proyek itu tanpa kompromi. Ia menegaskan, tanah Sangalla’ tidak boleh industri energi eksploitasi.
Frenky menilai isu geothermal bukan sekadar soal teknis. Ia melihat ancaman serius terhadap budaya dan lingkungan. Masyarakat menjaga warisan ini selama berabad-abad.
Kekhawatiran Lingkungan dan Ancaman Budaya
Mantan Presiden IKMA Sulawesi itu menyoroti dampak lingkungan jangka panjang. Ia menyebut Sangalla’ sangat bergantung pada sumber mata air alami. Contohnya Permandian Makula’ dan lahan persawahan luas.
Ribuan hektare sawah bergantung pada air bawah tanah. Jika pengeboran mengganggu sistem itu, dampaknya akan besar.
“Kami hidup dari pertanian dan pariwisata alam. Jika pengeboran terjadi, siapa menjamin mata air tetap aman? Risikonya terlalu besar,” tegasnya.
Ia juga menyoroti lokasi eksplorasi yang dekat dengan hutan adat. Beberapa titik berada di sekitar situs sakral. Kondisi ini sangat sensitif bagi masyarakat.
Frenky menilai industri besar bisa merusak tatanan sosial. Aktivitas itu juga mengancam nilai sakral wilayah Sangalla’.
Proyek ini merupakan bagian dari program Kementerian ESDM. Luas wilayahnya mencapai 12.979 hektare. Pemerintah mendorong proyek ini sebagai energi bersih.
Namun, warga dan masyarakat adat menolak rencana tersebut. Mereka khawatir proyek ini merusak lingkungan. Mereka juga menilai proyek ini mengancam lahan pertanian dan situs budaya.




