JAKARTA – Mobil dan motor Gibran Rakabuming, Wakil Presiden terpilih 2024, melaporkan kekayaan pribadinya senilai Rp25,6 miliar ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam laporan tersebut, ia menyertakan koleksi tujuh kendaraan pribadi yang mencerminkan gaya hidup sederhana dan fungsional.
Mobil dan Motor Gibran Rakabuming Dengan Rentang Nilai dari Jutaan hingga Ratusan Juta Rupiah
Gibran menyebut tiga unit motor miliknya, yaitu Royal Enfield Classic 500 (2017), Honda Scoopy (2015), dan Honda CB-125 (1974). Selain motor, ia juga melaporkan empat mobil: Toyota Avanza (2016), Toyota Camry (2002), Isuzu Panther (2012), dan Nissan Livina (2019).
Seluruh kendaraan itu memiliki nilai bervariasi, mulai dari Rp7 juta hingga Rp450 juta sesuai usia dan spesifikasi unit. Gibran menekankan bahwa ia membeli kendaraan tersebut dengan dana pribadi tanpa bantuan hibah, pinjaman, atau sponsor pihak lain.
Melalui laporan ini, ia ingin menunjukkan transparansi serta tanggung jawab sebagai pejabat publik di hadapan masyarakat luas. Ia juga menjelaskan bahwa kendaraan-kendaraan tersebut telah ia miliki jauh sebelum menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Gibran Tegaskan Komitmen Transparansi sejak Awal Menjabat
Gibran mengaku ingin memberi contoh nyata kepada publik mengenai pentingnya keterbukaan informasi dari penyelenggara negara. Ia pun menegaskan tidak pernah menyembunyikan sumber dana dan tidak menyamarkan bentuk kepemilikan aset kendaraan.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa setiap transaksi pembelian kendaraan selalu tercatat rapi dan sesuai aturan pajak yang berlaku. Ia juga menyampaikan bahwa laporan ke KPK disusun dengan teliti bersama tim akuntansi dan staf pribadi.
Transparansi ini, menurutnya, harus menjadi budaya baru di kalangan pejabat muda yang ingin membangun kepercayaan publik. Oleh karena itu, ia meminta semua pejabat untuk ikut memberi contoh yang baik di bidang pelaporan kekayaan.
Pengamat Apresiasi Keterbukaan dan Gaya Hidup Sederhana Gibran
Banyak pengamat memuji sikap Gibran yang melaporkan detail kendaraannya secara terbuka kepada masyarakat dan lembaga berwenang. Menurut para pakar etika, sikap ini mencerminkan integritas seorang pejabat yang ingin menginspirasi generasi penerusnya.
Publik pun memberikan tanggapan positif karena Gibran tidak memamerkan kekayaan berlebihan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Mereka menganggap sikap itu sebagai bentuk empati dan kesadaran sosial dari pejabat negara yang berjiwa muda.
Gibran mengaku siap mempertahankan transparansi ini selama menjabat dan ingin menjadikannya sebagai warisan moral untuk masa depan. Ia berharap seluruh pejabat publik tetap menjunjung integritas, khususnya dalam pengelolaan dan pelaporan harta kekayaan.




