NGERTI.ID – Ketegangan geopolitik global terus meningkat seiring langkah agresif Amerika Serikat (AS) di berbagai kawasan, termasuk Iran dan Venezuela. Washington juga menekan negara mitra dagang lewat kebijakan tarif impor yang memicu kewaspadaan China.
Presiden China Xi Jinping langsung merespons situasi ini dengan menyusun strategi jangka panjang. Ia mengarahkan negara untuk memperkuat teknologi canggih dan memodernisasi militer guna menghadapi rivalitas dengan AS.
Dalam rapat parlemen nasional di Beijing, Xi memaparkan rencana lima tahun yang menitikberatkan pada pengembangan kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, serta berbagai teknologi strategis lain. Ia menegaskan bahwa keunggulan teknologi akan menentukan kekuatan ekonomi, militer, hingga pengaruh global.
China juga mempercepat inovasi di berbagai sektor, seperti bio-manufaktur, energi hidrogen dan fusi, antarmuka otak-komputer, embodied intelligence, serta jaringan 6G. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk memenangkan persaingan global yang semakin ketat.
“Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus merebut inisiatif strategis,” tegas Xi.
Pembatasan Teknologi Jadi Pemicu
Sejumlah kebijakan dari AS menjadi titik balik bagi China. Dalam beberapa tahun terakhir, Washington aktif membatasi akses teknologi untuk perusahaan China.
Pada 2023, pemerintahan Joe Biden melarang Nvidia menjual chip AI canggih, termasuk GPU H200, ke China dengan alasan keamanan nasional. Kebijakan itu bertujuan menahan laju perkembangan teknologi Beijing.
Namun, pada 2025, Donald Trump mencabut sebagian pembatasan tersebut dan kembali mengizinkan penjualan chip AI canggih ke China.
Komisi Komunikasi Federal (FCC) juga melarang penggunaan router asing mulai Januari 2026. Meski FCC tidak menyebut negara secara spesifik, banyak analis menilai kebijakan itu menargetkan produk asal China.
Selain itu, AS memasukkan Huawei dan ZTE ke dalam daftar hitam. Kebijakan ini membuat Huawei tidak bisa menggunakan teknologi Google, termasuk sistem operasi Android. Huawei kemudian mengembangkan HarmonyOS sebagai alternatif.
Kondisi ini mendorong China mempercepat kemandirian teknologi. Xi menilai tekanan dari Barat justru membuka peluang untuk memperkuat fondasi industri dalam negeri.
Anggaran Militer Naik, Fokus Tetap Teknologi
Selain sektor teknologi, China juga meningkatkan kekuatan militernya. Pemerintah menaikkan anggaran pertahanan sekitar 7 persen menjadi 277 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.710 triliun.
Meski demikian, Xi menegaskan bahwa kemenangan jangka panjang tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi pada kemampuan menguasai industri masa depan.
China kini menargetkan berbagai terobosan, mulai dari pengembangan obat, penambangan laut dalam, hingga energi fusi.
Sejumlah analis melihat Beijing optimistis dapat melampaui AS di sektor AI, robotika, komputasi kuantum, dan jaringan 6G. Namun, pelaksanaan di tingkat daerah berpotensi memicu kelebihan produksi yang kemudian mengalir ke pasar global.
Melalui strategi ini, China berupaya memperkuat posisinya dalam persaingan global sekaligus mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat.




