Jakarta — Wacana mendorong Presiden Joko Widodo untuk maju sebagai calon Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali mencuat. Dorongan ini datang dari berbagai kalangan yang menilai bahwa Jokowi memiliki kapasitas dan pengaruh untuk membesarkan partai berbasis anak muda tersebut.
Ketua DPP PSI, Dedek Prayudi, menyatakan bahwa Jokowi memiliki latar belakang kepemimpinan yang kuat, jaringan luas, dan rekam jejak yang sesuai dengan semangat progresif PSI. “Kami melihat figur Pak Jokowi sebagai sosok yang ideal untuk membawa PSI tumbuh lebih besar. Beliau punya pengalaman eksekutif dua periode dan memiliki kedekatan dengan kelompok muda,” ujar Dedek saat ditemui di Jakarta, Selasa (14/5).
Dedek menambahkan, dorongan ini bukan bentuk paksaan, tetapi lebih sebagai aspirasi internal dari kader-kader PSI yang menginginkan perubahan signifikan dalam tubuh partai menjelang Pemilu 2029.
Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Presiden Jokowi mengenai kemungkinan keterlibatannya dalam struktur kepengurusan PSI. Masa jabatan Jokowi sebagai presiden akan berakhir pada Oktober 2024, namun diskursus mengenai langkah politik pascajabatan terus menjadi sorotan publik.
Menurut Dedek, keterlibatan Jokowi dalam partai politik setelah masa jabatannya dinilai sebagai sesuatu yang wajar dan konstitusional. “Tidak ada larangan bagi mantan presiden untuk bergabung atau memimpin partai politik. Justru akan menjadi warna baru bagi demokrasi kita,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah pengamat menilai dorongan ini bisa menjadi sinyal arah politik baru pasca-Jokowi, sekaligus menjadi tantangan bagi PSI untuk menjaga konsistensi sebagai partai yang menjunjung pluralisme dan anti-korupsi.
PSI sendiri dikenal sebagai partai yang menaruh perhatian pada isu keberagaman, hak anak muda, dan pemberantasan korupsi. Dengan bergabungnya tokoh besar seperti Jokowi, partai ini berpotensi memperluas basis elektoralnya.
Namun, publik masih menanti keputusan resmi dari Presiden Jokowi terkait masa depannya usai turun dari jabatan RI-1. Apakah ia akan benar-benar mengambil peran strategis di partai politik, atau memilih peran lain dalam pembangunan bangsa.




