NGERTI.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengiriman perwakilan AS ke Islamabad, Pakistan, untuk membuka negosiasi dengan Iran. Langkah ini muncul setelah Trump menuding Teheran melanggar kesepakatan gencatan senjata di Selat Hormuz.
Trump menyampaikan tudingan itu melalui unggahan di Truth Social pada Minggu. Ia menyebut Iran menembakkan peluru di wilayah strategis tersebut dan menargetkan kapal Prancis serta Inggris.
“Iran menembakkan peluru di Selat Hormuz. Itu pelanggaran total terhadap perjanjian gencatan senjata,” tulis Trump.
Trump memastikan utusannya akan tiba di Pakistan dalam waktu dekat untuk memulai pembicaraan. Dalam wawancara dengan New York Post, ia menyebut utusan khusus Steve Witkoff. Ia juga memastikan Jared Kushner akan ikut terlibat dalam proses negosiasi.
Negosiasi Memanas, Ancaman dan Klaim Muncul
Trump menilai langkah Iran di Selat Hormuz justru merugikan negara itu. Ia mengklaim penutupan jalur pelayaran membuat Iran kehilangan hingga 500 juta dolar AS per hari. Ia menilai kondisi tersebut tidak berdampak signifikan bagi Amerika Serikat.
Ia juga melihat perubahan jalur distribusi global mulai terjadi. Sejumlah kapal beralih menuju wilayah Amerika Serikat seperti Texas, Louisiana, dan Alaska untuk memuat barang.
Di sisi lain, Trump kembali menawarkan kesepakatan kepada Iran. Ia menilai tawaran itu adil dan masuk akal, sekaligus menyampaikan ancaman keras jika negosiasi gagal.
“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil. Jika mereka menolak, Amerika Serikat akan mengambil tindakan tegas,” ujar Trump.
Ketegangan meningkat seiring berakhirnya masa gencatan senjata dua minggu yang diumumkan sebelumnya. Hingga kini, kedua pihak belum mencapai kepastian terkait kelanjutan perundingan maupun titik temu atas perbedaan mereka.
Situasi di Selat Hormuz juga menunjukkan penurunan tajam aktivitas pelayaran. Lalu lintas kapal hampir berhenti pada Minggu.
Dari pihak Iran, negosiator Mohammad Bagheri Ghalibaf mengakui adanya kemajuan dalam pembicaraan sebelumnya. Namun, ia menegaskan sejumlah isu utama masih belum terselesaikan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut menyoroti polemik tersebut. Ia menegaskan Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk menghentikan program nuklir Iran.
Iran terus membantah klaim Trump terkait kesediaan mereka menyerahkan uranium yang diperkaya tinggi. Isu ini tetap menjadi salah satu ganjalan utama dalam negosiasi.
Dengan situasi yang belum menentu, beberapa hari ke depan akan menjadi momen krusial dalam konflik yang telah berlangsung selama enam minggu tersebut.




