NGERTI.ID – Pemerintah China secara terbuka menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai pemicu gangguan di Selat Hormuz setelah Iran membatasi sebagian jalur strategis itu. Beijing menilai aksi militer Washington dan Tel Aviv menjadi akar masalah yang menghambat arus pelayaran global.
Selat Hormuz menjadi jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan rute perdagangan dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di kawasan ini. Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas pelayaran di selat itu turun tajam dan memicu kekhawatiran pasar energi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa operasi militer AS dan Israel terhadap Iran telah memperburuk situasi.
“Akar gangguan navigasi di Selat Hormuz berasal dari operasi militer ilegal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran,” ujar Mao.
Pernyataan itu menunjukkan sikap Beijing yang semakin tegas terhadap Washington, sekaligus menegaskan kedekatan posisi China dengan Iran dalam konflik terbaru di kawasan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meminta negara-negara pengguna jalur minyak Selat Hormuz ikut bertanggung jawab menjaga keamanan. Ia menilai negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari jalur itu harus berperan lebih aktif, meski tidak merinci langkah konkret.
Pernyataan Trump menandai perubahan pendekatan AS yang kini mendorong sekutu berbagi beban untuk menjaga salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Dampak ke Pasar Energi Global
Penurunan lalu lintas di Selat Hormuz mulai mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi, terutama di negara-negara importir di Asia dan Eropa.
Analis memperingatkan, jika gangguan berlangsung lama, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi. Hingga kini, belum ada solusi cepat yang mampu meredakan ketegangan yang terus meningkat.
Prancis Kerahkan Kapal Perang
Di tengah situasi tersebut, Prancis meningkatkan kehadiran militernya dengan mengirim sejumlah kapal perang ke kawasan Mediterania, Laut Merah, dan berpotensi menuju Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan mendukung sekutu sekaligus menjaga stabilitas keamanan maritim.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan komitmen Eropa dalam menghadapi ancaman di kawasan.
“Ketika Siprus diserang, maka Eropa juga ikut diserang,” kata Macron saat bertemu pemimpin Siprus dan Yunani.
Macron menambahkan, Prancis akan memperkuat misi pertahanan defensif untuk melindungi jalur pelayaran internasional. Langkah ini juga mencakup penguatan misi Angkatan Laut Uni Eropa, Aspides, yang bertugas melindungi kapal dari serangan di Laut Merah.
Yunani ikut mendorong solidaritas Eropa dengan menambah kontribusi dalam operasi tersebut. Sementara itu, Prancis berencana mengerahkan lebih banyak armada, termasuk kapal induk dan kapal pengawal.
Macron menyebut misi itu berpotensi meluas hingga mencakup Selat Hormuz, dengan fokus mengawal kapal komersial seperti tanker dan kontainer. Misi ini bertujuan membuka kembali jalur pelayaran secara bertahap setelah konflik mereda.
Ketegangan yang belum mereda menjaga risiko eskalasi di kawasan tetap tinggi. Kondisi ini terus membayangi stabilitas pasokan energi global dan keamanan jalur perdagangan internasional.




