Kyiv/Moskow – Pada 1 Juni 2025 Ukraina melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap wilayah Rusia pada 1 Juni 2025 dalam sebuah operasi rahasia yang disebut “Operation Spider’s Web”, yang berujung pada kehancuran sedikitnya 41 pesawat militer Rusia, termasuk pembom strategis dan pesawat pengintai kelas berat. Serangan ini dianggap sebagai salah satu aksi paling berani dan sukses yang pernah dilakukan Ukraina sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022.
Operasi ini melibatkan 117 drone yang telah diselundupkan secara diam-diam ke wilayah Rusia selama 18 bulan terakhir. Drone-drone tersebut disembunyikan dalam struktur kayu di atas truk dan kemudian diaktifkan secara simultan dari jarak jauh untuk menyerang lima pangkalan udara strategis Rusia, yakni Belaya, Dyagilevo, Ivanovo Severny, Olenya, dan Voskresensk.
Pesawat-pesawat yang hancur dalam serangan ini termasuk:
- Tu-95 “Bear” – pembom strategis berkemampuan nuklir
- Tu-22M3 – pembom jarak jauh
- A-50 – pesawat radar dan komando udara
- Beberapa pesawat tanker dan pesawat angkut militer lainnya
Menurut pihak Ukraina, kerugian ini mencakup sekitar 34% dari armada pembawa rudal strategis Rusia, dengan total kerugian ditaksir mencapai $7 miliar. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy disebut mengawasi langsung operasi ini dan memuji keberanian serta keberhasilan pasukan drone Ukraina.
Dalam pernyataan yang dirilis ke media, Ukraina menyatakan bahwa serangan ini merupakan peringatan tegas kepada Moskow bahwa wilayah mereka tidak lagi aman dari serangan balik. “Kami tidak akan hanya bertahan di garis depan. Musuh akan merasakan akibat dari agresinya di jantung wilayahnya sendiri,” ujar seorang pejabat senior keamanan Ukraina.
Pemerintah Rusia melalui Kementerian Pertahanan mengonfirmasi adanya serangan di beberapa pangkalan udara, namun hanya mengakui kerusakan minor. Mereka menolak memberikan rincian mengenai jumlah pesawat yang hancur. Media pemerintah Rusia menyebut serangan ini sebagai “tindakan teroris” dan menyatakan bahwa Moskow akan membalas “dengan kekuatan penuh”.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari menjelang pembicaraan damai antara Ukraina dan Rusia yang dijadwalkan berlangsung di Istanbul. Analis internasional memperkirakan bahwa aksi ini dapat memperumit perundingan, meskipun Ukraina menyebutnya sebagai langkah untuk memperkuat posisi tawar dalam dialog diplomatik.
Komunitas internasional menyampaikan reaksi beragam. Sementara beberapa negara Barat memuji kecanggihan teknologi militer Ukraina, sejumlah pihak menyerukan agar kedua belah pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan. NATO sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun diperkirakan akan membahas situasi ini dalam pertemuan mendatang.
Dengan meningkatnya kemampuan Ukraina untuk melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia, keseimbangan kekuatan dalam perang ini menunjukkan tanda-tanda pergeseran signifikan. Pertanyaan besar kini bergantung pada apakah serangan ini akan mempercepat proses perdamaian—atau justru memperpanjang konflik yang telah merenggut ratusan ribu nyawa dan memaksa jutaan orang mengungsi.




