Jakarta – Remaja butuh dukungan keluarga, Survei terbaru Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan bahwa 30 persen remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Temuan ini memberi sinyal bahaya yang menuntut langkah pencegahan sejak dini agar masalah tidak berkembang menjadi gangguan serius.
Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa remaja rentan menghadapi tekanan emosional yang berujung pada kecemasan, depresi, hingga perilaku berisiko. Ia menekankan peran aktif keluarga, sekolah, dan tenaga medis untuk mendeteksi kesehatan mental sejak dini. “Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda awal yang muncul pada anak,” ujar Piprim.
Remaja butuh dukungan keluarga, Tantangan Kesehatan Mental Remaja
Faktor lingkungan, tekanan akademik, dan pengaruh media sosial sering memicu masalah kesehatan mental. IDAI mencatat bahwa banyak remaja merasa tertekan untuk selalu tampil sempurna serta memperoleh pengakuan dari lingkungannya. Tekanan itu menumbuhkan rasa rendah diri, kesepian, dan perilaku menyimpang.
Stigma sosial juga membuat banyak remaja enggan mencari pertolongan. Mereka memilih diam atau menutup diri, padahal intervensi sejak dini dapat menghentikan kondisi sebelum memburuk. “Jika kita biarkan, gangguan mental bisa menimbulkan masalah perilaku serius bahkan meningkatkan risiko bunuh diri,” kata Piprim.
Ajakan untuk Melakukan Deteksi Dini
IDAI mendorong pemerintah, sekolah, dan masyarakat agar memperkuat edukasi tentang kesehatan mental. Organisasi ini menekankan pentingnya screening kesehatan di sekolah, penyediaan layanan konseling, serta kampanye kesadaran publik.
Orang tua perlu membuka ruang komunikasi yang sehat dengan anak. Dengan cara itu, remaja merasa aman membicarakan masalah tanpa takut atau malu. Piprim juga menegaskan bahwa tenaga medis anak harus aktif bekerja sama dengan psikolog maupun psikiater untuk memberikan penanganan yang tepat.
IDAI menekankan bahwa pencegahan jauh lebih efektif daripada menunggu masalah berkembang parah. “Kita harus bergerak bersama agar remaja memiliki masa depan yang sehat, baik secara fisik maupun mental,” tegasnya.
Temuan ini mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan kesehatan mental remaja. Deteksi dini, dukungan keluarga, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk membangun generasi muda Indonesia yang lebih tangguh dan sehat jiwa.




