Jakarta – Kabar mengenai kondisi kesehatan Presiden Joko Widodo belakangan ini menjadi perhatian publik, menyusul munculnya dugaan bahwa beliau mengidap penyakit langka Stevens Johnson Syndrome (SJS). Dugaan ini mencuat setelah Presiden terlihat memiliki ruam dan pembengkakan di area wajah dan leher sepulang dari kunjungannya ke Vatikan pada April 2025.
Pada momen ulang tahunnya ke-64, Kamis (21/6), penampilan Jokowi yang tidak seperti biasanya juga menambah spekulasi. Ia terlihat menghindari interaksi langsung dengan masyarakat dan tidak melayani permintaan foto seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuat publik berspekulasi tentang kondisi kesehatannya yang sebenarnya.
Namun, ajudan Presiden, Kompol Syarif Fitriansyah, dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa Jokowi hanya mengalami reaksi alergi kulit pasca perjalanan luar negeri dan kini sedang dalam tahap pemulihan. “Wah, hoaks itu, enggak benar itu,” tegas Syarif menepis kabar soal SJS.
Meski demikian, isu mengenai Stevens Johnson Syndrome tetap ramai dibahas publik. Penyakit ini merupakan kondisi medis langka dan serius yang menyerang kulit dan selaput lendir, termasuk mulut, mata, dan alat kelamin. Gejalanya mirip flu di tahap awal, lalu berkembang menjadi ruam menyakitkan yang menyebar ke berbagai area tubuh.
Ruam pada penderita SJS biasanya mulai muncul di wajah, dada atas, tangan, dan kaki, yang kemudian berubah menjadi bintik-bintik merah atau ungu. Dalam waktu singkat, bintik-bintik tersebut dapat menyatu, membentuk lepuhan berisi cairan, dan menyebabkan kulit mengelupas. Proses ini tidak hanya menyakitkan, tetapi juga bisa memicu komplikasi serius seperti infeksi dan dehidrasi.
Tak hanya menyerang kulit, SJS juga menyerang selaput lendir, dengan gejala seperti rasa perih di mata, luka di mulut, kesulitan menelan, hingga sesak napas. Mata menjadi organ yang paling sering terdampak, menambah risiko komplikasi permanen bila tidak segera ditangani secara medis.
Karena sifatnya yang gawat darurat, penderita SJS membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, termasuk pengendalian nyeri, penyembuhan luka, dan pencegahan komplikasi lanjutan. Masa pemulihan bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tergantung pada tingkat keparahan penyakit.
Dari polemik seputar kesehatan Presiden Jokowi ini, publik diingatkan akan pentingnya mengenali gejala penyakit langka seperti Stevens Johnson Syndrome. Terlepas dari benar tidaknya isu tersebut, meningkatkan kesadaran akan penyakit ini menjadi langkah penting dalam mencegah keterlambatan diagnosis dan penanganan di masa depan. <spl>




