Makassar – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami lonjakan tajam sepanjang tahun 2024. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sulsel, hingga Oktober tercatat 4.975 kasus DBD dengan 20 korban jiwa. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun 2023 yang hanya mencatat 2.701 kasus dengan delapan kematian.
Kepala Dinkes Sulsel, M. Ishaq Iskandar, menjelaskan bahwa peningkatan kasus DBD dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan iklim, terutama saat curah hujan tinggi. “Insidensi kasus DBD umumnya naik saat musim hujan karena nyamuk Aedes aegypti berkembang biak lebih cepat,” ujarnya dalam keterangannya.
Puncak kasus terjadi pada Februari 2024 dengan 866 kasus dan tiga kematian. Meski jumlahnya sempat menurun di bulan-bulan berikutnya, tren tahunan tetap menunjukkan peningkatan signifikan. Anak-anak usia 5-14 tahun menjadi kelompok paling rentan dengan total 2.194 kasus dan sembilan kematian.
Secara wilayah, Kota Makassar menjadi daerah dengan kasus tertinggi yaitu 565 kasus, meski tidak mencatatkan korban jiwa. Sementara kabupaten lain seperti Sidrap, Maros, dan Bulukumba mencatat lebih dari 300 kasus, menunjukkan bahwa sebaran kasus terjadi cukup merata di berbagai daerah.
Faktor utama meningkatnya kasus disebut berasal dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Selain itu, tingginya mobilisasi penduduk menjadi tantangan tambahan dalam pengendalian penyebaran penyakit ini. “Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) masih belum menjadi kebiasaan rutin masyarakat,” kata Ishaq.
Sebagai langkah antisipatif, Dinkes Sulsel telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kabupaten/kota untuk memperketat pengawasan dan respons saat musim hujan. Selain itu, koordinasi lintas sektor juga diperkuat, termasuk dengan program promosi kesehatan dan kesehatan lingkungan.
Masyarakat juga diimbau untuk melakukan gerakan 3M Plus, yaitu menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. “Jika ada anggota keluarga mengalami demam, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat,” tambah Ishaq.
Melihat data dua tahun terakhir, peningkatan kasus yang hampir dua kali lipat ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih waspada. Edukasi berkelanjutan, penguatan fasilitas kesehatan, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran DBD ke depan. <spl>




