Kesehatan – WHO Dorong Kenaikan Pajak Rokok, Alkohol, dan Minuman Manis demi Kesehatan Global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong negara-negara untuk menaikkan pajak konsumsi terhadap produk seperti rokok, alkohol, dan minuman berpemanis. Menurut laporan terbaru WHO, kebijakan fiskal ini berpotensi menekan angka penyakit tidak menular dan sekaligus meningkatkan pendapatan negara.
WHO menyebutkan bahwa hanya 13% populasi dunia yang tinggal di negara dengan pajak optimal terhadap produk tidak sehat tersebut. Oleh karena itu, WHO menilai kebijakan saat ini belum cukup kuat untuk melindungi kesehatan masyarakat global.
WHO Dorong Kenaikan Pajak Rokok, Negara Berkembang Perlu Bertindak Cepat
Dr. Ruediger Krech, Direktur Kesehatan dan Promosi WHO, menjelaskan bahwa banyak negara berkembang belum memanfaatkan potensi pajak produk tidak sehat secara maksimal. Ia menyoroti bahwa setiap peningkatan pajak dapat mencegah kematian akibat penyakit kronis.
Selain itu, Krech menegaskan bahwa uang yang dikumpulkan dari pajak tersebut bisa digunakan untuk memperkuat sistem kesehatan nasional. Ia percaya langkah ini merupakan strategi yang menguntungkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
Data WHO menunjukkan bahwa sekitar 8 juta orang meninggal setiap tahun akibat konsumsi tembakau. Sementara itu, alkohol menyebabkan lebih dari 3 juta kematian per tahun, dan minuman berpemanis turut menyumbang angka obesitas yang terus meningkat secara global.
Pajak Bisa Mengurangi Konsumsi dan Angka Kematian
Berdasarkan studi WHO, menaikkan pajak sebesar 50% terhadap produk-produk tersebut dapat menurunkan konsumsi secara signifikan. Langkah ini diperkirakan bisa mencegah jutaan kasus penyakit jantung, diabetes, dan kanker dalam satu dekade ke depan.
Sebagai contoh, Meksiko berhasil menurunkan konsumsi minuman berpemanis secara drastis setelah menerapkan pajak tinggi. Filipina juga menunjukkan tren positif dalam pengendalian konsumsi tembakau sejak memberlakukan kebijakan serupa.
Walau beberapa pihak mempertanyakan motif di balik kebijakan ini, WHO menegaskan bahwa fokus utamanya tetap pada kesehatan masyarakat. Lembaga ini tetap konsisten menyerukan kepada negara-negara agar tidak ragu menggunakan pajak sebagai alat promosi kesehatan.
Kesehatan Meningkat, Penerimaan Negara Naik
Selain menekan konsumsi, kebijakan ini juga memberikan keuntungan fiskal. Negara-negara dapat menggunakan tambahan pendapatan untuk membiayai program kesehatan masyarakat, pendidikan gizi, hingga layanan primer yang lebih merata.
Meskipun beberapa pihak menyuarakan kekhawatiran atas dampak ekonomi bagi pelaku industri, WHO menganggap perlindungan kesehatan jangka panjang lebih penting daripada keuntungan jangka pendek. Oleh karena itu, negara-negara didorong untuk mempertimbangkan kebijakan ini secara serius.




