Jakarta – Stafsus bantah hoaks Gibran, Media sosial kembali diramaikan kabar menyesatkan. Beberapa akun menuding Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bermain padel di Anwa Racquet Club ketika demonstrasi besar berlangsung di Jakarta. Unggahan itu menyebar cepat, memicu spekulasi publik, dan menimbulkan kesalahpahaman. Namun, Staf Khusus Wakil Presiden, Tina Talisa, segera meluruskan kabar tersebut dan menegaskan bahwa isu itu hoaks.
Tina menegaskan bahwa Gibran berada di kantor Wakil Presiden saat aksi berlangsung. Lebih lanjut, ia menyebut Gibran baru menyelesaikan kunjungan kerja ke Sumatera Utara sehari sebelumnya untuk menghadiri Musyawarah Pelayanan (Mupel) GBKP. “Pak Wapres fokus pada agenda kenegaraan, bukan bermain padel seperti yang beredar di media sosial,” ujar Tina.
Sementara itu, manajemen Anwa Racquet Club juga memberikan klarifikasi resmi. Mereka menyatakan bahwa Gibran tidak pernah hadir di fasilitas olahraga tersebut. Dengan demikian, pernyataan klub sekaligus menutup ruang bagi klaim yang mencoba menyudutkan posisi Wakil Presiden.
Stafsus Bantah Hoaks Gibran, Agenda Resmi Gibran Menepis Isu
Agenda resmi Gibran menunjukkan jadwal padat. Sebagai Wakil Presiden, ia menghadiri berbagai rapat kenegaraan dan kunjungan ke daerah. Fakta ini membuktikan bahwa ia tidak mungkin berada di lapangan olahraga pada saat demonstrasi berlangsung. Selain itu, dokumentasi resmi perjalanan Gibran juga memperlihatkan aktivitasnya secara jelas.
Tim Cek Fakta Liputan6 kemudian melakukan penelusuran. Mereka menemukan bahwa foto serta video yang menyebar tidak berkaitan dengan Gibran. Faktanya, narasi yang beredar hanya rekayasa untuk membangun persepsi negatif. Oleh karena itu, masyarakat perlu berhati-hati saat menerima informasi dari media sosial.
Lawan Hoaks dengan Literasi Digital
Kasus hoaks ini menunjukkan bagaimana informasi palsu dapat memengaruhi opini publik dalam waktu singkat. Tina kembali mengajak masyarakat agar selalu kritis. “Mari kita biasakan menyaring informasi sebelum membagikannya. Dengan begitu, kita bisa menghentikan hoaks sejak awal,” tegasnya.
Selain itu, literasi digital menjadi senjata utama untuk melawan hoaks. Masyarakat yang terbiasa memeriksa sumber informasi mampu menghindari jebakan berita palsu. Di sisi lain, sikap kritis juga membantu publik fokus pada fakta, bukan pada narasi yang sengaja digoreng. Akhirnya, semakin banyak orang sadar akan pentingnya verifikasi, semakin sulit hoaks bertahan di ruang digital.




