SUKABUMI – Siapa sangka, dalang di balik terbakarnya 13 rumah warga di Kota Sukabumi bukanlah penjahat ulung, melainkan seorang bocah lelaki berusia sembilan tahun. Bocah ini diduga meniru adegan dari film aksi dan game online yang biasa ia tonton, dan nekat menyulut api ke rumah-rumah warga di Kelurahan Tipar, Kecamatan Citamiang.
Rentetan kebakaran dimulai sejak Rabu (30/4) saat waktu Magrib. Rumah warga tiba-tiba dilalap si jago merah tanpa sebab jelas. Kebakaran kembali muncul usai salat Isya, lalu Subuh, hingga dalam satu pekan, total 13 titik api menghanguskan rumah warga.
Ketakutan dan kecemasan menyelimuti permukiman. Warga mulai berjaga dan meronda malam. Kecurigaan mereka terbukti pada Sabtu (3/5) dini hari. Seorang bocah tertangkap tangan membawa korek api gas dan mencoba membakar rumah.
Setelah diamankan dan diperiksa oleh polisi, bocah itu mengaku tak memiliki motif selain “ingin coba-coba.” Ia meniru apa yang sering ia lihat di game dan film aksi: membakar, menghancurkan, lalu lari. Tidak ada motif dendam, tidak ada perintah siapa pun—murni karena pengaruh tontonan.
“Pelaku masih di bawah umur. Ia meniru adegan kekerasan dari game dan film, lalu mencoba melakukannya di dunia nyata,” ujar Kasatreskrim Polres Sukabumi Kota, AKP Tatang Mulyana.
Mengingat pelaku masih anak-anak, polisi bersama tokoh masyarakat memutuskan menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan. Bocah itu kini dalam pengawasan ketat orang tuanya dan mendapat pembinaan khusus.
Namun peristiwa ini meninggalkan jejak trauma bagi para korban. Warga kini bahu-membahu memperketat keamanan lingkungan dan menghidupkan ronda malam.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi orang tua: apa yang dikonsumsi anak lewat layar bisa berdampak nyata. Kurangnya kontrol terhadap konten digital dapat memicu tindakan ekstrem, bahkan pada usia semuda ini.
Redaksi [ngerti.id] mengajak pembaca untuk lebih waspada terhadap pengaruh konten digital terhadap anak-anak. Edukasi, pengawasan, dan literasi digital adalah kunci utama.




