Doha – Israel melancarkan serangan udara ke ibu kota Qatar, Doha, pada Selasa (9/9). Serangan itu menargetkan pimpinan politik Hamas yang sedang membahas proposal gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat.
Sumber keamanan menyebutkan, serangan menghantam sebuah gedung di distrik Leqtaifiya. Serangan menewaskan enam orang, termasuk seorang pejabat keamanan Qatar, anak pemimpin Hamas Khalil al-Hayya, tiga pengawal, dan seorang staf kantor Hamas. Para pimpinan Hamas dilaporkan selamat.
Pemerintah Qatar bereaksi keras. Doha menegaskan Israel telah melanggar kedaulatan negara dan hukum internasional. Dalam pernyataan resmi, Qatar menyebut serangan tersebut sebagai agresi militer yang akan berdampak serius pada stabilitas regional. Qatar juga membawa kasus ini ke PBB, menuduh Israel melanggar Piagam PBB.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres langsung mengutuk serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan atas kedaulatan Qatar. Rusia menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran besar Piagam PBB. Inggris melalui Perdana Menteri Keir Starmer mengecam keras serangan Israel. Sementara Amerika Serikat menyatakan “sangat tidak senang” dan mengingatkan serangan itu tidak membantu upaya diplomasi.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Oman, dan Kuwait ikut menyatakan solidaritas kepada Qatar. Mereka mengecam Israel dan menegaskan dukungan terhadap upaya diplomasi yang tengah diupayakan Doha.
Serangan ini menandai pertama kalinya Israel menyerang langsung ke wilayah Qatar. Para analis menilai langkah Israel sebagai pesan bahwa pimpinan Hamas tidak memiliki tempat aman, sekaligus sinyal ketidakpercayaan terhadap peran Qatar sebagai mediator konflik Gaza.
Meski begitu, Qatar menegaskan tetap berkomitmen dengan menjalankan peran sebagai mediator perdamaian. Pemerintah Doha menekankan bahwa jalur diplomasi adalah satu-satunya cara menghentikan kekerasan di Gaza dan mengakhiri krisis kemanusiaan.




