Internasional – Menteri Israel ancam Suriah, Bezalel Smotrich, kembali memicu ketegangan internasional setelah secara terang-terangan menyerukan pembunuhan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Dalam pernyataannya di kanal TV 14 Israel, Smotrich mengatakan, “Israel harus membunuh Bashar al-Assad dan menargetkan para pemimpin senior rezimnya.” Ia menyampaikan pernyataan tersebut setelah menyalahkan pemerintah Suriah atas meningkatnya aktivitas militan Hizbullah dan Iran di wilayah perbatasan.
Smotrich, yang berasal dari partai sayap kanan Religious Zionism, menegaskan bahwa Israel tidak boleh tinggal diam melihat ancaman dari arah utara. “Jika seseorang menyerang kami dari Suriah, maka Assad harus membayar mahal,” katanya lantang. Ia juga menyebut bahwa Assad bertanggung jawab secara penuh karena mengizinkan Iran dan Hizbullah membangun basis di Suriah.
Pernyataan Smotrich datang di tengah memanasnya ketegangan antara Israel dan Iran, khususnya setelah kematian pemimpin tinggi Garda Revolusi Iran dalam serangan udara di Damaskus yang diduga dilakukan oleh Israel.
Menteri Israel ancam Suriah Elite Suriah Balas dengan Peringatan Berdarah
Geng elite yang setia pada Presiden Assad langsung membalas pernyataan Smotrich dengan ancaman keras. Dalam tanggapan resminya, mereka menyatakan bahwa pembunuhan terhadap Assad akan memicu “sungai darah.” Mereka juga menyampaikan bahwa rakyat Suriah akan membalas dendam dengan kekuatan penuh jika Israel benar-benar melancarkan serangan terhadap pemimpin mereka.
Seorang sumber dari lingkungan dekat Assad mengatakan, “Kami tidak akan tinggal diam jika ada serangan terhadap Presiden kami. Sungai darah akan membanjiri wilayah yang mendukung agresi tersebut.” Peringatan ini memperjelas bahwa Suriah menganggap pernyataan Israel bukan sekadar ancaman kosong.
Sementara itu, analis regional menilai bahwa pernyataan Smotrich bisa memperburuk situasi keamanan di Timur Tengah. Beberapa pihak internasional bahkan mendesak Israel untuk menahan diri agar tidak menciptakan konflik berskala besar.
Meski ketegangan antara kedua negara bukan hal baru, eskalasi kali ini terlihat jauh lebih serius karena menyentuh figur utama dalam pemerintahan Suriah. Jika Israel benar-benar melanjutkan langkah agresif ini, kawasan Timur Tengah bisa kembali menjadi medan konflik besar yang tak terhindarkan.




