Washington D.C. – AS tolak kedatangan Netanyahu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali mengunjungi Amerika Serikat dan menerima sambutan hangat dari Donald Trump. Namun, kedatangannya langsung memicu gelombang protes dari berbagai elemen masyarakat.
Trump memuji Netanyahu sebagai “teman sejati Amerika” dan menegaskan pentingnya hubungan strategis antara kedua negara. Di sisi lain, masyarakat sipil, aktivis HAM, dan tokoh agama justru menolak kehadirannya secara terbuka.
Rakyat AS Tolak Kedatangan Netanyahu Rabi Yahudi Turun ke Jalan Serukan Perdamaian
Tidak hanya aktivis, sejumlah rabi Yahudi progresif juga bergabung dalam aksi unjuk rasa untuk menentang kunjungan Netanyahu. Salah satunya, Rabi Aryeh Cohen dari Los Angeles, menyatakan bahwa kekerasan Israel bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan.
Karena itu, para tokoh agama membawa pesan perdamaian dan menuntut penghentian serangan terhadap warga sipil Palestina. Mereka mengingatkan bahwa solidaritas terhadap korban bukanlah tindakan anti-Semit, melainkan bentuk kepedulian terhadap sesama.
Trump Dukung Israel, Publik AS Pilih Berdiri Bersama Palestina
Sementara Trump menyalahkan Hamas atas konflik yang terjadi, publik AS justru menunjukkan empati terhadap rakyat Palestina. Oleh karena itu, berbagai kota besar di Amerika menjadi lokasi unjuk rasa damai yang menyerukan keadilan.
Organisasi HAM mendesak pemerintah menghentikan bantuan militer untuk Israel dan memulai diplomasi berbasis kemanusiaan. Selain itu, sejumlah mahasiswa dan akademisi juga menyuarakan dukungan terhadap penyelesaian damai yang lebih adil.
Sorotan Internasional Tertuju pada Kebijakan AS
Di tengah kontroversi tersebut, dunia internasional mengawasi langkah Amerika yang dinilai terlalu memihak Israel. Karena itulah, tekanan diplomatik terus meningkat agar AS mengambil posisi netral dalam konflik di Timur Tengah.
Meski Trump menyambut Netanyahu secara resmi, mayoritas warga Amerika menyuarakan penolakan terhadap kebijakan tersebut. Mereka berharap pemerintah lebih mendengar suara rakyat dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan serta hak asasi manusia.
Pengamat politik internasional menyoroti perubahan sikap publik Amerika terhadap kebijakan luar negeri mereka. Warga AS mulai mempertanyakan dukungan tanpa syarat kepada Israel setelah berbagai laporan kekerasan terhadap warga sipil Palestina mencuat. Karena itu, gelombang tekanan terhadap pemimpin politik AS terus meningkat seiring tuntutan publik yang menginginkan diplomasi berkeadilan dan berpihak pada hak asasi manusia.




