Washington DC – Trump perintahkan Razia Imigran, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memerintahkan langsung razia besar-besaran terhadap imigran berdasarkan ras, bahasa, dan pekerjaan informal. Petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) langsung menyisir kawasan padat imigran, termasuk pasar tradisional, area konstruksi, dan restoran komunitas kulit berwarna.
Laporan Ngerti.id menyebut, seorang pejabat federal menyatakan, “Kami mendasarkan razia ini pada penilaian atas ras, bahasa, dan jenis pekerjaan.” Tim imigrasi melaksanakan operasi di banyak kota besar termasuk Los Angeles, Houston, Chicago, dan beberapa kawasan perbatasan dengan Meksiko.
Berbagai organisasi hak asasi manusia mengkritik keras tindakan ini karena memicu diskriminasi dan menurunkan rasa aman komunitas imigran di seluruh negeri. Donald Trump membela keputusan itu dalam konferensi pers dan berkata, “Kami melindungi negara ini dari imigran ilegal yang melanggar aturan.”
Kelompok advokasi imigran menilai Trump menggunakan cara yang kasar dan merendahkan martabat warga berdasarkan ciri fisik dan aksen bicara mereka. Anggota Kongres dari Partai Demokrat langsung menuntut penyelidikan atas razia dan menyatakan bahwa kebijakan ini menargetkan warga tanpa dasar hukum yang jelas.
Trump Perintahkan Razia Imigran Demonstran Turun ke Jalan, Pengacara Ajukan Gugatan
Ratusan aktivis menggelar unjuk rasa di depan kantor Departemen Keamanan Dalam Negeri dan menyerukan penghentian razia serta penghapusan kebijakan diskriminatif. Mereka membawa poster bertuliskan “Kami Bekerja, Bukan Mengancam” dan menyuarakan bahwa imigran juga berkontribusi dalam ekonomi Amerika.
Tim hukum dari American Civil Liberties Union (ACLU) segera mendaftarkan gugatan hukum ke pengadilan federal atas pelanggaran hak konstitusional. Pengacara ACLU, Michelle Rodriguez, menyatakan, “Pemerintah melanggar hukum ketika menangkap warga hanya karena mereka berbahasa asing atau berkulit gelap.”
Hakim Distrik John Morales mengeluarkan perintah penundaan operasi razia dan meminta pengacara pemerintah hadir dalam sidang lanjutan pekan depan. Pengadilan juga memberikan izin kepada tim hukum untuk menghadirkan saksi korban razia yang mengalami perlakuan diskriminatif dan pelecehan verbal.
Sejumlah keluarga imigran menghadiri sidang tersebut dan memberikan kesaksian langsung tentang perlakuan aparat saat penggerebekan berlangsung di tempat kerja mereka. Pemerintah belum merespons perintah pengadilan, namun sejumlah pejabat menyatakan akan tetap mengejar kebijakan imigrasi secara tegas dan agresif.
Pakar Peringatkan Bahaya Polarisasi Akibat Razia
Para akademisi dari Universitas Georgetown menyelenggarakan forum diskusi yang membahas dampak sosial, hukum, dan ekonomi dari razia berbasis diskriminasi ini. Profesor Sosiologi, Dr. Linda Chen, menyampaikan, “Pemerintah menciptakan rasa takut dan memecah kepercayaan antara komunitas warga dan aparat penegak hukum.”
Mahasiswa dan aktivis mahasiswa turut mendistribusikan informasi hukum kepada komunitas imigran agar memahami hak-hak mereka saat menghadapi petugas. Mereka menyerukan pendekatan berbasis keadilan dan empati, bukan kebijakan rasial yang mengancam nilai-nilai demokrasi di Amerika Serikat.




