Depok – Cuaca ekstrem kembali menyebabkan kerusakan fasilitas umum di wilayah Jabodetabek. Kali ini, angin puting beliung yang melanda Kota Depok menyebabkan sebagian plafon di Terminal Jatijajar roboh. Insiden terjadi pada Minggu (8/6) sekitar pukul 15.30 WIB, saat kawasan terminal tengah diguyur hujan deras disertai angin kencang.
Kepala Terminal Jatijajar, Muhammad Iqbal, membenarkan adanya kerusakan fisik pada bangunan terminal. Menurutnya, plafon yang ambruk berada di area kedatangan lantai dasar. Ia memastikan bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut.
“Cuaca tiba-tiba berubah ekstrem. Hujan sangat deras dan angin datang sangat kuat. Tidak lama kemudian, plafon di salah satu sisi terminal jatuh. Kami langsung sigap mengevakuasi orang-orang yang berada di dekat lokasi kejadian,” ungkap Iqbal.
Menurut Iqbal, saat kejadian, kondisi terminal masih cukup ramai karena banyak pengguna jasa yang menunggu kedatangan dan keberangkatan bus. Suasana sempat panik saat bagian plafon runtuh, namun petugas segera bertindak cepat mengarahkan penumpang untuk menjauh dari titik bahaya.
Setelah kejadian, petugas terminal bersama unsur Dinas Perhubungan Kota Depok langsung menutup area terdampak dan memasang garis pembatas. Tim teknis dari Dishub juga diterjunkan untuk mengevaluasi struktur bangunan guna memastikan tidak ada kerusakan lanjutan yang bisa membahayakan.
“Kami lakukan pemeriksaan awal untuk menilai tingkat kerusakan dan keamanan struktural. Perbaikan akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Kami upayakan agar tidak mengganggu operasional terminal secara keseluruhan,” jelas Iqbal.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Depok mengonfirmasi bahwa fenomena angin puting beliung di wilayah Depok belakangan ini merupakan bagian dari pola cuaca ekstrem yang tengah berlangsung di sejumlah daerah di Jawa Barat.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Depok, Denny Marpaung, menyebutkan bahwa angin kencang yang disertai hujan lebat bisa menimbulkan dampak serius terhadap bangunan dan keselamatan warga. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari berteduh di bawah pohon, baliho besar, atau bangunan dengan struktur lemah saat cuaca ekstrem.




