Jakarta – Di tengah dominasi smartphone canggih seperti iPhone dan Android, tren mengejutkan muncul dari kalangan Gen Z. Generasi muda ini mulai memburu kembali ponsel legendaris era 2000-an, Blackberry, sebagai bentuk perlawanan terhadap kecanduan digital. Tagar #blackberry bahkan telah digunakan lebih dari 127 ribu kali di TikTok, memperlihatkan antusiasme Gen Z dalam merayakan gaya hidup digital yang lebih sederhana.
Banyak dari mereka mengaku jenuh dengan kehidupan serba layar dan memilih kembali ke perangkat yang lebih terbatas fitur, seperti Blackberry maupun dumbphone. Tak hanya sekadar nostalgia, tren ini juga bagian dari gerakan detoks digital yang makin populer di kalangan anak muda. Di tengah gempuran notifikasi dan aplikasi media sosial, Blackberry dianggap sebagai alternatif untuk kembali terhubung dengan dunia nyata.
“Saya sudah muak dengan Apple, saya rela menyerahkan hampir segalanya demi sebuah Blackberry!” ujar seorang pengguna TikTok yang viral, mengungkapkan kekecewaannya terhadap smartphone masa kini. Hal senada disampaikan oleh Pascal Forget, kolumnis teknologi asal Montreal. “Dulu menyenangkan, tapi sekarang orang kecanduan, jadi mereka ingin kembali ke masa-masa sederhana dengan menggunakan perangkat yang lebih sederhana,” ucapnya.
Fenomena ini tak lepas dari meningkatnya kesadaran akan dampak negatif smartphone terhadap kesehatan mental. Studi Pew Research Center pada 2024 menyebut hampir separuh remaja di AS mengaku online hampir tanpa henti, meningkat dua kali lipat dari satu dekade lalu. Beberapa di antaranya bahkan mengalami “getaran notifikasi palsu”, bentuk gejala kecemasan akibat kebiasaan penggunaan gawai berlebihan.
Charlie Fisher, mahasiswa berusia 20 tahun, menjadi salah satu pelaku detoks digital yang mengganti iPhone-nya dengan ponsel lipat. “Ini pada dasarnya menciptakan pola di mana saya merasa cemas, lalu saya membuka smartphone saya, dan kemudian saya membenci diri sendiri karena membuka smartphone,” katanya. Setelah beralih ke perangkat sederhana, ia mengaku kembali merasakan hidup yang lebih nyata.
“Anda benar-benar melihat segala sesuatu sebagaimana adanya di dunia nyata, dan emosi Anda benar-benar terikat pada itu,” lanjut Fisher. Bagi Gen Z seperti dirinya, dumbphone bukan sekadar alat komunikasi, tetapi simbol perlawanan terhadap tekanan digital yang terus meningkat.
Lars Silberbauer, Chief Marketing Officer Nokia Phones dan HMD Global, menyatakan bahwa minat terhadap dumbphone menandakan perubahan besar dalam cara berpikir remaja. “Dari penelitian, kita dapat melihat bahwa generasi muda mengalami masalah kesehatan mental, sehingga mereka memilih untuk menjauhi media sosial,” jelasnya. Hal ini juga terlihat dari meningkatnya tren ‘offlining’ dan minimalisme digital yang digaungkan Gen Z sejak 2021.
Meski demikian, hidup tanpa smartphone tidak selalu mudah. Banyak layanan publik, restoran, hingga sistem transportasi kini mengandalkan teknologi digital. Namun, bagi sebagian Gen Z, pengorbanan itu sebanding dengan ketenangan pikiran yang didapatkan. Di tengah dunia yang makin sibuk, Blackberry dan dumbphone menjadi pintu gerbang menuju hidup yang lebih sadar, tenang, dan terhubung dengan sesama manusia secara nyata. <spl>




